Bagan Apung, Ketika Berlabuh.

Saya bukan penyuka laut, bahkan saya takut laut. Tetapi saya tertarik untuk membuat film dokumenter tentang sekelompok pria yang bekerja di sebuah lokasi atau tempat kerja yang maskulin, yang mensyaratkan mereka berada di satu lokasi (yang secara fisik terbatas) dalam waktu yang lama. Misalnya di perahu penangkap ikan, atau seperti Bagan Apung ini. Saya tertarik untuk merekam bagaimana relasi antar para lelaki ini berkembang pada situasi tersebut. 

Saya sudah pernah mewawancarai seseorang yang pernah bekerja di kapal penangkap ikan di Banda Aceh. Sangat menarik sebenarnya, terutama karena yang bekerja di kapal tersebut datang dari daerah yang berbeda-beda. Misalnya pak Slamet, narasumber saya ini berasal dari Jogja, ada juga yang berasal dari Medan dan sebagainya. Mereka menghabiskan waktu minimal satu minggu di tengah laut. Mereka yang rumahnya jauh di pulau Jawa seringkali baru bisa pulang enam bulan sekali. Pola kehidupan seperti ini jelas sangat menarik untuk difilmkan.

Karena itulah saya mengunjungi Bagan Apung di pantai Oesapa di Kupang ketika berkunjung kesana. Kebetulan sekali mereka sedang berlabuh, membereskan alat yang rusak, mengecat kapal dan sebagainya. Sayang sekali Bagan Apung ini tidak cocok dengan syarat lokasi yang saya ajukan, tidak seperti di Jermal yang pekerjanya tinggal di platform yang dibangun di laut lepas dan tinggal disana berbulan-bulan, para pekerja di Bagan Apung tidak tinggal di kapal itu dalam waktu yang lama. Mereka datang pagi hari untuk pulang lagi. Satu orang bergantian menunggu pada malam hari. 

Film ini tadinya saya niatkan sebagai film yang terdiri dari beberapa lokasi dalam beberapa fragmen: di sebuah tambang yang jauh dari pemukiman dan pekerja di proyek bangunan. Sialnya proyek ini sulit terwujud karena sulit sekali mendapat izin untuk syuting.

  1. thecoloroflemon reblogged this from thelonelylight
  2. thelonelylight posted this